Apakah naturalisasi benar-benar jalan pintas menuju kejayaan, atau justru jebakan yang membuat fondasi sepak bola rapuh? Selasa, 26 Agustus 2025, langit Senayan dipenuhi ketegangan saat rapat paripurna DPR RI berlangsung. iNews (26/8/2025) melaporkan dengan judul “DPR RI Ancam PSSI: Kalau Gagal Lolos Piala Dunia, Stop Naturalisasi!” yang menyoroti pernyataan keras anggota Komisi XIII, Arisal Aziz, di tengah derasnya arus proyek naturalisasi PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir.
Situasi ini semakin relevan karena publik menaruh harapan besar pada Timnas Indonesia untuk menembus putaran final Piala Dunia 2026. Program naturalisasi yang semula dipandang sebagai solusi cepat kini dipertanyakan efektivitasnya. Di balik ambisi besar, muncul pertanyaan apakah jalan ini benar-benar membangun kemandirian sepak bola nasional.
Sebagai penulis, saya melihat polemik ini bukan sekadar isu olahraga. Ia menyentuh urat nadi tentang kebanggaan bangsa, kedaulatan, dan masa depan generasi muda. Kritik DPR pun layak dipandang sebagai cermin evaluasi demi memastikan Garuda tidak hanya terbang sesaat, tetapi juga kokoh di angkasa.
Naturalisasi: Solusi Cepat atau Jalan Pintas?
Gelombang naturalisasi yang digencarkan PSSI menimbulkan pertanyaan besar mengenai arah pembangunan sepak bola nasional. Secara praktis, langkah ini memang bisa mendongkrak kualitas tim dalam jangka pendek. Namun, apakah strategi ini sejalan dengan kebutuhan regenerasi dan pembinaan pemain lokal yang berkesinambungan?
Risikonya, Indonesia justru terjebak pada ketergantungan jangka panjang terhadap pemain naturalisasi. Saat energi dikerahkan untuk mencari diaspora berbakat, pembinaan di daerah kerap tidak mendapat prioritas yang sama. Kritik DPR, dalam hal ini, menyoroti dilema antara mengejar prestasi cepat dan menata pondasi jangka panjang.
Naturalisasi memang bukan hal tabu. Tetapi ketika hasilnya nihil, publik berhak bertanya: di mana investasi pada anak negeri? Sebab, prestasi sejati tumbuh dari akar yang kuat, bukan dari ranting pinjaman.
Anak Negeri Jangan Jadi Penonton
Seruan Arisal Aziz, “jangan sampai anak negeri tersisih,” adalah alarm moral yang patut direnungkan. Identitas bangsa tidak sekadar dilambangkan oleh Garuda di dada, tetapi juga diperjuangkan oleh putra-putri asli negeri. Jika dominasi naturalisasi melampaui batas, motivasi generasi muda bisa terkikis.
Aziz bahkan menuturkan pengalamannya membangun akademi dan lapangan di Sumatera Barat sebagai bukti nyata pentingnya pembinaan akar rumput. Apa jadinya jika anak negeri hanya diberi ruang sebagai penggembira di tanahnya sendiri? Harapan dan semangat bisa tergerus oleh rasa kalah sebelum berjuang.
Refleksi ini menegaskan bahwa naturalisasi seharusnya pelengkap, bukan pengganti. Bila anak negeri kehilangan panggung, maka hilang pula sebagian dari martabat bangsa.
Asa Garuda Menuju Piala Dunia 2026
Meski dihantam kritik, Timnas Indonesia masih menyimpan asa besar menembus Piala Dunia 2026. Laga krusial melawan Arab Saudi dan Irak di putaran keempat kualifikasi Zona Asia akan menjadi ujian terberat. Sebelum itu, duel kontra Lebanon pada FIFA Matchday 8 September 2025 bisa menjadi debut pemain naturalisasi baru.
Jika Miliano Jonathans dan Mauro Zijlstra mampu membuktikan kualitas, kepercayaan publik bisa sedikit pulih. Namun jika tidak ada perbedaan signifikan, protes terhadap kebijakan naturalisasi pasti semakin keras. Kritik DPR pun akan semakin relevan sebagai tuntutan akuntabilitas.
Pada titik ini, harapan publik sederhana: Timnas Garuda tampil membanggakan, entah dengan pemain lokal atau naturalisasi. Tetapi, jalan menuju kejayaan sejati tetap bergantung pada pondasi yang kokoh, bukan semata hasil instan.